Home / hutang / Jaminan / HAJRU

HAJRU

HAJRU

Hajru ialah melarang atau menahan seseorang dari membelanjakan[memperedarkan]hartanya.Yang berhak melarang ialah wali atau hakim.Tujuan larangan ini ada 2 macam:

  1. Dilakukan larangan terhadap seseorang guna menjaga hak orang lain,seperti larangan terhadap:
  2. Orang yang berutang,sedangkan utangnya tunaidan lebih banyak daripada hartanya.Ia dilarang berbelanja guna menjagayang berpiutang.
  3. Orang sakit payah,dilarang berbelanja lebih dari 1/3 hartanyaguna menjaga hak warisnya.
  4. Orang yang merungguhkan,dilarang membelanjakan barang yang sedang dirungguhkan.
  5. Orang yang murtad[orang yang keluar dari agama islam],dilarang memperedarkan hartanya guna menjaga hak muslimin.

عن كعب ابن ما لك ان النبي صلى الله عليه وسلم حجر على معا ذ ما له و با عه فى دين كان عليه رواه الدا ر قطنى

Dari Ka’ab bin Malik,’’Sesungguhnya Nabi SAW telah menahan harta Mu’adz,danbeliau jual harta itu untuk membayar utangnya.’’[H.R.D.aruqutni]

  1. Dilarang karena menjaga haknya sendiri,misalnya:
  2. Anak kecil,hendaklahdijaga tidak boleh membelanjakan hartanya hingga berusia balig dan sudapandai berbelanja.
  3. Orang gila,dilarang berbelanjasampai sembuh.
  4. Orang yang menyia2kan hartanya[pemboros]’dilarang berbelanja sampai ia sadar.

Terhadap semua orang  yang tersebut  di atas,wajib dilakukan larangan oleh wali masing2 atau hakim.Apabilatelah dilakukan kepada mereka larangan,maka membelanjakan harta mereka tidak sah.

Firman  Allah SWT:

‘’ Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum Sempurna akalnya[268], harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. berilah mereka belanja dan Pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.[An-Nisa:5]

 

‘’ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, Maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). jika tak ada dua oang lelaki, Maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa Maka yang seorang mengingatkannya. janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu,  menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, Maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. jika kamu lakukan (yang demikian), Maka Sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.[Al-Baqarah:282]

About admin

Nama saya gilang mahival, Hanya seorang hamba allah yang gemar menimba ilmu dari pesantren ahlussunnah. Dan mengharapkan ridha nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*