Home / KITAB UQUDULLUJAIN / HAK-HAK ISTRI ATAS SUAMI

HAK-HAK ISTRI ATAS SUAMI

HAK-HAK ISTRI ATAS SUAMI

Allah swt berfirman dalam surat An-Nisa ayat 19:

وَعَا شِرُ وْ هُنَ بِا ْلمَعْرُوْفِ

‘’Dan bergaullah dengan mereka[wanita]secara patut.’’

Dalam surat Al-Baqarah ayat 228:

وَلَهُنَ مِثْلُ الَذِيْ عَلَيْهِنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَلِلرِ جَا لِ عَلَيْهِنَ دَرَجَةٌ

‘’Dan mereka mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban menurut cara yang ma’ruf.Akan tetapi kaum laki2 [suami]mempunyai satu tingkat[kelebihan]dari pada mereka.

Yang dimaksud dengan patut dalam firman Allah SWT yang diatas adalah bijaksana.Ini dimaksudkan bahwa laki2 harus bijaksana dalam mengatur waktu untuk istri.Demikian pula dalam kaitannya dalam masalah nafkah yang merupakan bagian dari hak istri.Hal lain yang terkait dengan masalah kepatutan disini ialah kehalusan dalam berbicara.

Mengenai masalah keseimbangan antara hak dan kewajiban wanita,firman Allah swt  yang kedua itu menunjukkan bahwa laki2 dan wanita mempunyai hak yang sama dalam menuntut kewajiban terhadap kewajiban yang lain sebagai suami istri,bukan dalam masalah kelamin.Dalam hubungan ini,hak mereka berbeda.Karena laki2 berhak untuk berpoligami.Adapun yang dimaksud dengan cara yang ma’ruf adalah cara yang baik menurut pandangan agama,seperti bersopan santun,tidak melakukan hal2 yang dapat melukai perasaan,baik bagi suami maupun istri.

Oleh karena itu,masing2 dari keduanyaberkewajiban untuk melakukannya,mengingat bahwa hal tersebut merupakan bagian dari apa yang dimaksud dari ayat diatas.

Selain itu,ada hal lain yang perlu disebutkan disini,yaitu maksud ayat yang menyatakan bahwa laki2 ya’ni suami mempunyai tingkat kelebihan dari pada istri.Hal ini terkait dengan hak suami yang diperolehnya atas tanggung jawab suami itu sendiri dalam memberikan mas kawin dan nafkah bagi istrinya.Dalam hal ini,suami berhak memperoleh keta’atan istri.Dengan demikian,maka istri wajib ta’at kepada suamisehubungan dengan tanggung jawabnya dalam mewujudkan dan memelihara kemaslahatan istri,disamping kesejahteraan hidupnya ditanggung suami.

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW ketika melakukan ibadah haji wada’[haji terakhir],beliau yang kala itu tepat pada hari jum’at,menyatakan khotbah jum’at.Setelah ucapan puji dan syukur kepada Allah SWT.beliau menyatakan:

‘’Ketahuilah olehmu bahwa kamu sekalian hendaknya melaksanakan wasiatku,yaitu melakukan hal yang terbaik bagi wnita.Mereka itu tertahan disisimu.Bagimu tidak ada pilihan lain dalam menghadapi mereka melakukan fahisyah[nusyuz]secara jelas.Apabila mereka melakukannya,maka kamu sekalian hendaknya menghindar dari mereka ditempat peraduan dan berikanlah pukulan yang tidak memberatkan.Akan tetapi kalau mereka ta’at kepadamu,maka kamu tidak boleh mencari jalan untuk memukul mereka.Ketahuilah bahwa kamu mempunyai hak atas istrimu dan mereka pun mempunyai hak atas dirimu.Adapun hak kalian atas mereka adalah bahwa mereka itu tidak memperkenankan tilam milikmu tersentuh oleh orang lain yang tidak kamu sukai,dan tidak mengizinkan rumahmu dimasuki orang lain yang tidak kamu sukai pula.Dan ingatlah bahwa kamu harus menunjukkan kebaikanmu terhadap mereka baik dalam memberikan sandang maupun pangan.’’[H.R.Turmudzi dan Ibnu Majah]

Dalam hadis diatas Nabi Muhammad SAW bermaksud memberikan perhatian kepada kaum muslimin agar  mendengarkan  apa yang diwasiatkan kepada mereka dan selanjutnya melaksanakan wasiat itu.Dalam hal ini beliau menganjurkan agar kaum muslimin berhati lembut terhadap istri serta menunjukkan perilaku yang baik dalam bergaul dengan mereka.Sebab,wasiat Nabi Muhammad SAW dalam hadis diatas sudah barang tentu muncul karena faktor lemahnya wanita,termasuk didalamnya kebutuhan wanita itu sendiri terhadap keluhuran budi suami sebagai seorang yang mampu menyediakan hal2 yang menjadi keperluan mereka.

Selanjutnya Nabi Muhammad SAW menggambarkan istri itu sebagi ‘’wanita yang tertahan’’.Disini beliau memandang insane yang lemah itu sebagai tahanan,karena wwanita itu pada dasarnya ditahan oleh suami kendati itupun berlangsung ditempat kediamannya.Akan tetapi tawanan yang satu ini tidak sama dengan tawanan pada umumnya,karena dalam riwayat yang lain,Nabi Muhammad SAW memberikan perhatian bahwa istrinadalah titipan Allah SWT yang menuntut tanggung jawab yang amat besar dari suami.Apabila laki2 menerima titipan yang amat mulia ini ,berarti mereka telah menerimanya sebagai amanat dari Allah SWT.Sehubungan dengan hal tersebut,laki2  dituntut untuk  memiliki cara yang paling baik dalam bergaul dengan istrinya sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW.yang luhur.Jika mereka melihat adanya nusyuz yang secara riil dilakukan istri,maka hadis tresebut menunjukkan cara yang bijaksana,yaitu menghindari tempat peraduan dalam arti tidak tidur bersama istri.Pola sikap seperti ini dalam jangka waktu yang tidak terbatas,karena yang dimaksud adalah pulihnya ihwal yang positif.Dengan demikian,apabila menghadapi istri dalam nusyuznya,maka suami dapat mengambil sikap tersebut dalam rentang waktu yang panjang,kendatipun sampai dua tahun.Setelah istri menyadari kekhilafannya,dan kondisi positif seperti yang diharapkan terwujud kembali dalam diri sang istri,pada saat itu suami tidak boleh menghindar seperti sedia kala.

Selain itu,kiranya perlu disebutkan disini,bahwa sebagian ulama ada yang mengemukakan pendapatnya mengenai batas waktu menghindar bagi suami adalah selama satu bulan.Andai istri tidak berubah,padahal suami telah melakukan cara yang amat bijaksana seperti yang diutarakan diatas,maka suami diperkenankan melakukan pukulan yang tidak memberatkan.Hal ini dimaksudkan bahwa istri memperoleh pelajaran lain berupa pukulan ringan yang sifatnya tidak meninggalkan bekas ditubuh.jangan sampai terjadi bahwa pukulan itu begitu kuat sehingga membuat noda pada anggota badan.Apalagi sampai terjadi penyebab terjadinya cedera.Itulah yang harus diperhatikan dalam menerapkan sabda Nabi SAW yang menganjurkan agar suami memberikan pukulan bagi istri.Dan ini merupakan sangsi yang dapat diwujudkan manakala istri tidak berubah sikap.Akan tetapi bila istri ta’at kembali kepada suami,maka sangsi tersebut tidak boleh diterapkan.

Dengan demikian,suami harus mampu menahan diri menghadapi anjuran Nabi SAW dalam kasus diatas.Sebab anjuran ini dimaksudkan sebagai tindak lanjut  dari ketentuan beliau sebelumnya,yang pelaksanaannya terkait dengan pola istri yang tidak kunjung membaik setelah adanya pengejawantahan dalam ketentuan tersebut dalam jangka waktu yang cukup lama.Kalau sampai terjadi suami memukul istri yang telah membaik,maka hal itu merupakan suatu kedzaliman.Oleh karena itu,suami harus berusaha memendam peristiwa yang telah berlalu.

Perlu disebutkan disini,suatu riwayat lain yang berkaitan dengan apa yang dinyatakan Nabi SAW .beliau menyatakan hal2 mengenai hak2 istri baik dibidang sandang maupun pangan,sabdanya:

حَق الْمَرْءَةِعَلىَ الزَوْجِ اَنْ يُطْعِمَهَا اِذَا طَعِمَ وَيَكْسُوْهَا اِذَا كْتَسَى وَلاَيَضْرِبَ الْوَجْهَ وَلاَيُقَبِحَ وَلاَيَهْجُرَ اِلاَ فِى الْمَبِيْتِ{رواه الطبرانى والحاكم عن معا وية بن حيده}

‘’Hak wanita atas suaminya ialah bahwa suami memberikan konsumsi pangan kepada istri apabila ia mengkonsumsi bahan pangan,dan memberikan sandang kepadanya apabila ia berpakaian,dan janganlah suami memukul bagian wajah istri,mengumpatnya serta menghindarinya kecuali didalam rumah.[H.R.Tabrani dan Hakim dari Mu’awiyah  bin Haidah]

Hal lain yang harus diperhatikan suami adalah bahwa istri tidak berhak mendapatkanpenghinaan dari suami.Kemudian masalah menghindar,seperti yang telah dimaklumi,nabi M uhammad SAW melarang suami untuk menghindar dari istri kecuali didalam rumah,yakni ditempat peraduan.Adapun hal lain diluar itu,seperti menghindar dalam konteks komunikasi secara lisan,tidak diisyaratkan didalam hadis.Dengan demikian,suami tidak boleh membungkam atau membisu dalam kasus ini.Apabila hal itu dilakukan,berarti suami telah berbuat dosa,karena tindakan itu haram,kecuali karena uzur.Sebagai seorang suami,laki2 wajib memperhatikan ajaran2 agama yang terkait dengan segala sesuatu yang harus dilakukan terhadap istrinya.Sebab,Nabi Muhammad SAWmemberikan peringatan serius mengenai kewajibannya dalam merealisasikan hak2 wanita yang diperistrikannya.Untuk menjelaskan hal itu,disini akan dikemukakan suatu riwayat yang telah disampaikan oleh Imam Thabrani,yaitu sebuah hadis yang menyatakan:

‘’Rasulullah SAW bersabda,’’jika seorang laki2 memperistri  seorang wanita dengan memberikan mas kawin,baik dalam jumlah besar atau kecil,sedangkan dalam dirinya tidak ada kehendak untuk memberikan hak2 wanita itu,maka dia telah mengkhianatinya.Apabila laki2 itu meninggal,padahal belum memberika hak2 tersebut,maka dia akan menghadap Allah SWT dihari kiamat dengan menanggung dosa.’’[H.R.Thabrani]

Maksudnya bahwa laki2 tersebut adalah seorang pelaku zina,dan dihari kiamat dia menghadap Allah dengan menanggung dosa perzinaan.

Dalam hadis lain Nabi Muhammad SAW memberikan petunjuk yang harus dilakukan oleh seorang laki dalam memberikan segala sesuatu yang merupakan hak2 seorang istri .Hal itu tercermin dalam suatu hadis yang menyatakan:

‘’Rasulullah SAWbersabda,’’Sesungguhnya orang2 mukmin yang paling sempurna imannya adalah mereka yang paling baik akhlaknya dan paling lembut sikapnya kepada keluarganya.’’[H.R.Turmudzi dan Hakim dari Aisyah r.a]

Akhlak dalam hadis tersebut adalah budi pekerti yang luhur.Semua itu tentunya dimaksudkan sebagai realisasi dari kewajiban suami.Dengan demikian,walaupun kata ‘’keluarga’’ disini memberikan pengertian yang luas karena melibatkan banyak unsur termasuk didalamnya anak2,suami,kerabat dekatnya,istri sudah barang tentu mendapatkan prioritas khusus.Sebab,dialah yang berfungsi sebagai pendukung utama bagi terciptanya sebuah keluarga.Oleh sebab itu,kondisi etik yang positif sebagaimana telah disinyalir didalam hadis tadi perlu mendapatkan penekanan khusus dalam pembicaraan mengenai kewajiban suami untuk mewujudkan hak2 istri sehubungan dengan fungsi itu sendiri .

Hadis yang senada lainnya diriwayatkan oleh Ibnu Hibban yang berbunyi:

وَقَالَ صلى الله عليه وسلم  خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لاَهْلِهِ وَاَنَا خَيْرُكُمْ لاِهْلِى {رواه ابن حبان}

‘’Rasulullah SAWbersabda,’’orang yang terbaik diantara kamusekalian adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya.Sedangkan diriku sendiri lebih baik dari pada kamu sekalian karena [kebaikanku]terhadap keluargaku.[H.R.Ibnu Hibban]

Dalam hadis lain Nabi Muhammad SAW cukup tegas dalam menganjurkan kewajiban etik seorang suami terhadap istri:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِنِسَا ئِهِ وَاَنَا خَيْرُكُمْ لِنِسَا ئِ

‘’Orang yang terbaik diantara kamu sekalian adalah mereka yang paling baik terhadap istri,dan aku sendiri lebih baik dari pada kamu sekalian atas[kebaikanku]terhadap istriku.’’

Dalam menerapkan norma2 akhlak didalam kehidupan rumah tangga,seorang suami harus memiliki pedoman moral yang strategis.Untuk itu,Nabi Muhammad SAW memberikan petunjuk agar suami bersabar hati dalam menghadapi cobaan istri.Dengan demikian,suami dapat melaksanakan kewajibannya secara baik sesuai dengan ajaran agama untuk memahami cobaan dari istri.Sebagaimana dikemukakan dalam sebuah hadis:

وَرُوِيَ عَنِ النبي صلى الله عليه وسلم اَنَهٌ قَالَ:مَنْ صَبَرَ عَلَى سُوْءِ خُلُقٍ امْرَاَتِهِ اَعْطَا هُ اللهُ مِنَ الاَجْرِ مِثْلَ مَا اَعْطَى اَيُوْبَ عَلَيْهِ السلا م عَلَى بَلاَئِهِ

‘’Diriwayatkan dari Nabi saw bahwa beliau bersabda:’’siapa yang sabar  menghadapi kejelekan  akhlak istrinya,maka Allah SWT akan memberikan pahala sebesar cobaan yang diberikan kepada Nabi Ayyub a.s

Didalam hadis diatas disebutkan sesuai pahala Nabi Ayyub,hal ini dikarenakan Nabi Ayub terkenal sebagai seorang yang menderita.Pada waktu terserang penyakit yang hebat yang dapat mematikan  dan diderita selama bertahun2,beliau selalu bersabar menghadapi cobaan ini dan tetap menjalani ibadah.Demikian pula dalam menghadapi cobaan yang datang dari istrinya.Menurut suatu riwayat,beliau memiliki seorang istri yang memiliki rambut panjang yang indah,dan beliaupun menyukai rambutnya.Suatu hari sang istri bermaksud memotong rambutnya tanpa sepengetahuan Nabi Ayub,dan dipotonglah rambutnya tanpa memohon izin dahulu kepada suami.Tak lama setelah itu,Nabi Ayub mengetahuinya dan spontan beliau marah besar didalam hatinya.Dalam kondisi seperti itu,beliau yang sangat kecewa berusaha menahan amarahnya dengan penuh kesabaran.Bahkan Allah SWT telah memberikan cobaan kepada Nabi Ayub empat perkara:habis hartanya,habis anaknya,tubuhnya menjadi burik,dan ditinggalkan seluruh manusia kecuali istrinya.

FAEDAH

Ada beberapa hal dimana suami diperbolehkan  memukul istrinya:

  1. Karena suami menghendaki istri berhias dan bersolek,sedangkan istrinya tidak menuruti kehendaknya,dan jika istri diajak ketempat tidur.
  2. Karena keluar dari rumah tanpa izin,memukul anaknya menangis,menyobek-nyobek pakaian suami,atau memegang jenggot suami sambil berkata’’hai keledai..’’sekalipu suami memaki istri terlebih dahulu.
  3. Karena membuka mukanya dengan lelaki bukan muhrimnya,berbincang-bincang dengan laki2 lain,bicara dengan suami agar orang lain mendengar suaranya,memberikan sesuatu dari rumah istri yang tidak wajar diberikan,atau karena tidak mandi haid.

Didalam hal memukul istri karena meninggalkan salat ada dua pendapat.Yang lebih baik hendaklah  suami memukul istri,jika tidak mau melakukan salat karena diperintah.

Dan ketahuilah,sebaiknya suami itu melaksanakan hal2 sebagai berikut kepada istri:

  1. Memberikan wasiat,memerintahkan,mengingatkan,dan menyenangkan hati istri.Didalam hadis disebutkan:

‘’Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada lelaki yang berkata,’’Hai keluargaku,peliharalah salat,puasa,zakat,orang2 miskinmu,anak yatim,dan tetanggamu.Semoga Allah mengumpulkan kamu semua di syurga.’’

  1. Suami hendaknya memberika nafkah istrinya sesuai dengan kemampuannya,usaha dan kekuatannya.
  2. Suami hendaknya dapat menahan diri,tidak mudah marah apabila istri menyakitkan hatinya.
  3. Suami hendaknya menundukkan dan menyenangkan hati istri dengan menuruti kehendaknya dengan kebaikan.Sebab,umumnya wanita itu kurang sempurna akal dan agamanya.

Dalam hadis disebutkan:

لَوْ لاَ اَنَ الله سَتَرَ المَرْا ةَ بِالحَيَا ءِ لَكاَنَتْ لاَ تُسَا وِى كَفٌا مِنْ تُرَابٍ

‘’Andaikata Allah tidak menutupi wanita dengan sifat malu,niscaya ia tidak ada harganya,tidak menyamai harga secakup tanah.’’

  1. Suami hendaknya menyuruh istrinya melakukan perbuatan baik.
  2. Suami hendaknya mengajar istrinya apa yang menjadi kebutuhan agamanya,dari hukum2 bersuci seperti mandi haid,junub,wudhu dan tayamum.
  3. Suami harus mengajarkan berbagai macam ibadah kepada istri.Baik ibadah fardu ataupun ibadah sunat.

Jika suami dapat mengajar istrinya sendiri,maka istri tidak boleh keluar rumah untuk bertanya kepada orang2 alim atau ulama.Jika suami tidak dapat mengajar istri karena tidak tahu lantaran dangkalnya ilmu,maka sebagai gantinya dialah yang harus bertanya kepada ulama,lalu menerangkan jawaban kepada istrinya.Jika suami tidak sanggup bertanya kepada orang alim,maka istri boleh keluar,bahkan wajib keluar,dan suami berdosa kalau melarangnya.Jika istri sudah mengetahui tentang kewajiban2nya,maka ia tidak boleh keluar mendatangi majelis pengajian kecuali dengan izin dan ridho dari suaminya.

Allah SWTberfirman dalam surat At-Tahrim;

‘’Hai orang2 yang beriman,peliharalah diri dan keluargamu dari api neraka…’’[Q.S.At-Tahrim;6]

Juru  bicara Al-qur’an ,Abdullah bin Abbas memberikan komentar atas pengertian ayat tersebut,’’Kamu semua hendaknya mengajari keluargamu dalam urusan syari’at2 agama islam.’’

  1. Suami hendaknya mengajar budi pekerti yang baik kepada keluarganya.Sebab,manusia yang sangat berat siksaannya pada hari kiamat adalah orang yang keluarganya bodoh dalam syari’at agama islam.

Diriwayatkan dari Abdullan bin Umar r.a dari Nabi SAW beliau telah bersabda;

‘’Setiap kamu adalah pemimpin dan akan dipertanggung jawabkan atas kepemimpinannya.Seorang imam adalah pemimpin dan dipertanggungjawabkan kepemimpinannya.Seorang suami adalah pemimpin keluarganya dan dipertanggungjawabkan kepemimpinannya.Seorang istri adalah pemimpin dirumah suaminya dan dipertanggungjawabkan kepemimpinannya.Seorang pelayan adalah pemimpin harta tuannya dan dipertanggungjawabkan kepemimpinannya.Seorang anak adalah pemimpin harta orang tuanya dan dipertanggungjawabkan kepemimpinannya.Maka setiap kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.’’

Maksudnya,setiap kamu adalah orang yang dipercaya untuk berlaku baik terhadap apa yang dipercayakan kepada kamu semua.Maka setiap diri dituntut untuk berlaku adil dan mengurus kemaslahatannya  atas apa  yang dipercayakan kepadanya.

Dipertanggungjawabkan dari kepemimpinannya ,maksudnya adalah diakhirat kelak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.

Penguasa agung atau penggantinya adalah orang yang memimpin dan menjaga serta menguasai rakyatnya.Ia akan diminta tanggung jawabnya dalam memimpin rakyatnya,apakah sudah menjaga hak2 rakyatnya atau belum.

Seorang suami menjadi pemimpin keluarga,istri dan anak2nya.Ia akan dimintai pertanggungan jawab atas keluarganya,apakah sudah memenuhi hak2 mereka atau belum.

Seorang istri menjadi pemimpin dirumah suaminya,ia harus mengatur penghidupan dengan baik,harus bersikap baik terhadap suami,serta memelihara harta suami dan anak2nya.Istri juga akan dimintai pertanggungan jawab atas kepemimpinannya,apakah sudah melaksanakan yang menjadi kewajibannya atau belum.

Seorang anak harus menjaga harta ayahnya dan mengaturnya dengan baik.Anak juga dimintai pertanggungan jawab atas apa yang dikuasainya,apakah sudah memenuhi atau belum.

Jadi,setiap kamu adalah pemimpin,dan akan dipertanggungjawabkan kepemimpinannya,.Maksudnya,orang yang menjaga anggota tubuhnya sehingga mau melaksanakan kewajiban yang diperintahkan dan menjauhi segala larangan.

Ada 3 wasiat terakhir Rasulullah SAW yang diamanatkan kepada umatnya sewaktu beliau hendak meninggal dunia.Tiga wasiat itu diucapkan Rausullah SAW disaat hendak menghembuskan nafasnya yang terakhir,sehingga lisannya kurang jelas dan samar2,yaitu sabdanya:

اَالصَلاَةَ اَلصَلاَةَ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ لاَ تُكَلِفُوْهُمْ مَالاَيُطِيْقُوْنَ .اَلله اَلله فِى النِسَا ءِ فَاِ نَهُنَ عَوَانٌ اَيْ اُسَراءُ فِى اَيْدِيْكُمْ اَخَذْ تُمُوْهُنَ بِاَ مَا نَةِ الله وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوْجَهُنَ بِكَلِمَةِ اللهِ

‘’Jagalah salat…salat!Begitupun hamba sahayamu.Kamu semua jangan membebani mereka apa yang tidak mampu mereka lakukan.Takutlah kepada Allah,takutlah kepada Allah dalam urusan wanita,karena mereka adalah seperti tawanan yang ada pada kekuasaanmu.Kamu semua menguasai mereka dengan amanat Allah ,dan kamu menghalalkan farji mereka dengan kalimat Allah.’’

Allah SWT berfirman dalam surat Taha tentang perintah salat lima waktu kepada keluarga :

وَاْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَلاَةِ

‘’Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat.’’

Sabda Nabi SAW:

لاَيَلْقَى اللهَ اَحَدٌ بِذَ نْبٍ اَعْظَمَ مِنْ جَهَا لَةِ اَهْلِهِ

‘’Tak seorangpun menghadap Allah dengan membawa dosa yang lebih besar dari pada kebodohan  keluarganya.’’

Sementara itu,ulama mengatakan bahwa orang yang pertama kali mengganduli seorang lelaki pada hari kiamat adalah keluarganya,mereka seraya berkata;’’Wahai Tuhan kami,ambilkanlah hak kami pada orang ini.Karena ia tidak mengajarkan urusan agama kepada kami,ia member makan kami dari yang haram,sedangkan kami tidak  tahu.’’Orang itu lalu dipukul,karena usahanya yang haram,sehingga seluruh daging tubuhnya terkelupas,kemudian dibawa keneraka.Demikianlah sebagaimana disebutkan didalam kitab Al-Jawahir karya Imam Abu Laits As-Samarqandi.

About admin

Nama saya gilang mahival, Hanya seorang hamba allah yang gemar menimba ilmu dari pesantren ahlussunnah. Dan mengharapkan ridha nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*